THE NEW BOLANG (Dara, si Bocah Langang)

Ini pengalaman pertama aku jadi bolang, sang bocah petualang. Semuanya berawal dari keinginan buat mendaki gunung. akhirnya aku dan Indah, memutuskan untuk masuk Mapala. Berhubung aku kuliah di Fisip, jadi aku masuk Mapala Sakai. Ketika pendaftaran masuk Mapala dibuka, aku bareng Indah dengan semangat ’45 langsung memburu formulir pendaftaran dan mengisinya. Awalnya pendirian aku sempat goyang, gara-gara nyak babe nggak ngizinin dan takutnya keputusan yang aku ambil ini berdampak negatif buat ke depannya. Tetapi, berkat bujukan mautnya Indah dengan semangatnya yang membara (kalau dikartunkan matanya pasti berapi-api), aku memutuskan untuk tetap pada pendirian pertama.

Seminggu setelah mengisi formulir, kami dipanggil buat interview. Berhubung pada saat itu aku mangkir dari panggilan dikarenakan malas pergi sendirian, soalnya Indah lagi ngampung a.k.a balik kampung, jadinya kami diinterview selesai upacara pembukaan diklat. Setelah melakukan interview, pada pukul 14.00 WIB dimulailah penderitaan perjuangan itu selama dua pekan ke depan.

Well,, aku bakal berbagi cerita mengenai pengalamanku selama menjalani diklat ini. Diklat ini terbagi menjadi beberapa kegiatan, yaitu; diklat ruangan, pra-lapangan dan lapangan. Pada diklat ruangan yang jumlah awal peserta diklatnya berjumlah 8 orang (4 cewek, 4 cowok) berlangsung selama seminggu penuh. Kegiatan-kegiatannya diisi dengan materi-materi yang menyangkut dengan kegiatan pecinta alam seperti mountainering, navigasi, peta dan kompas, simpul tali, SAR, survival, caving, climbing, PPDK, dan rafling.

Jujur aja, diklat ruangan ini benar-benar membosankan! Soalnya setiap hari dibentak, dijutekin sama anggota mlulu, belum lagi pesertanya pada banyak yang ngacir, setiap sore wajib jogging keliling kampus, ditambah dengan hadiah paket! Jangan senang dulu dah sama paket yang satu ini, soalnya isi paketnya bikin otot kejang-kejang kek epilepsi karena di dalam 1 paket  terdapat 10 push-up, 10 sit-up, dan 10 skot jump. Dan kita bukan hanya dihadiahi 1 paket aja, tapi bisa 5 sampai 10 paket bahkan lebih! Gubrak..! terpaksa sanggup nggak sanggup musti dijabanin. Untungnya semangat dan tekad yang kuat membuat aku masih bertahan.

Setelah seminggu penuh diklat ruangan, tiba jugalah kami (yang tersisa cuma 3 orang cewek rangers : Aku, Indah, dan Kak Dora) pada diklat pra-lapangan. 3 hari sebelum pra-lapangan, kami disuruh melengkapi alat-alat mountainering. Tepatnya, pada hari Kamis kami semua secara mendadak disuruh berkumpul di homestay mapala Sakai untuk mengumpulkan dan melengkapi alat-alat dan ternyata pada hari itu juga tanpa pemberitahuan kami langsung camping di kampus buat pra-lapangan.

Pra- lapangan ini benar-benar bikin aku kalang kabut, soalnya lepas azan magrib kita bertiga digiring satu-persatu masuk hutan yang ada di samping homestay buat solo camp. Kita bertiga nge-camp di tempat yang berbeda-beda dan hanya sendiri. Hhaahh.. mendengar itu aku langsung panic at the disco, soalnya perlengkapan camping aku masih belum banyak yang lengkap ditambah aku sama sekali tidak ada pengalaman camping! It’s really something new for me! Dalam hati cuma bisa komat-kamit baca doa buat perlindungan. Rasanya nggak kuat, Tuhan!

Satu-persatu kami digiring ke dalam hutan, yang pertama digiring adalah Indah, terus kak Dora, baru yang terakhir…. jeng.. jeng.. akkuh! Setelah menyalakan lampu badai, aku mulai masuk ke dalam hutan dan disuruh buat bivak (tenda dari terpal), nyalain api unggun, masak dan istirahat. Dengan mulut ternganga sambil garuk-garuk badan, aku berusaha mengingat-ingat cara bikin bivak dan nyalain api unggun. Memang dasar apes, aku lupa kalau tali rafia dititipin sama Indah. Perasaan panik kembali menjalar, tapi aku berusaha menenangkan diri mencari ide-ide gimana caranya bikin  bivak tanpa tali. Akhirnya aku mengikat ujung-ujung terpal ke ranting pohon. Setelah selesai bikin bivak, aku nyalain api sambil menunggu kapan penderitaan perjuangan ini selesai. Nggak lama setelah itu, aku mendengar suara Indah dan Kak Dora nyari-nyari aku, dalam hati perasaan aku lega langsung aja aku teriak manggil mereka dan mereka nyamperin aku.

Setelah sempat share dan cerita-cerita juga berkunjung ke camp masing-masing, mereka balik ke campnya masing-masing. Dan aku sendiri lagi! Benar-benar bocah langang! Berasa begooo.. banget. Dalam hati aku nggak berhenti-hentinya berdoa supaya kami segera dipanggil keluar. Detik berlalu, menit pun berlalu,, langit malam itu tak henti-hentinya berdisco soalnya kilat dimana-mana suara guruh pun menggelegar. Sial,, naga-naganya mau hujan nih! Dan malam itu pun hujan dengan lebatnya mengguyur aku yang sendirian di tengah hutan. Melihat kondisi bivak yang sakaratul maut, aku memutuskan buat hijrah ke camp kak Dora dan dengan cueknya pergi cuma bawa badan doang, carrier dan barang-barang lainnya aku tinggalin aja di tempat camp.

Udah jadi makanan sehari-hari

Hujan udah reda, akhirnya anggota pun memanggil kami keluar. Ketika aku balik ke camp buat packing, ternyata camp aku kebanjiran dan alhasil carrier aku basah semua! Dan ini menunjukkan ke begoan aku lagi! Benar-benar bocah langang. Setelah packing, kami dikumpulkan di halaman Fisip. Aku sama Indah disuruh lari keliling bundaran Fisip sama guling-guling di genangan air depan kantor dekanat. Kalau boleh jujur, aku girang banget loh disuruh guling-guling di genangan, soalnya belum pernah sih disuruh yang begituan. Aku sama Indah nahan-nahan senyum kegirangan. Haha

Dini hari, kegiatan kami selanjutnya adalah navigasi malam yaitu membidik kompas dan membuat peta perjalanan dari homestay menuju stadion mini pulang-pergi. Malam itu, kami bertiga berkeliaran di kawasan kampus sambil bidik kompas, bawa senter, keberatan menggendong carrier. Ngeri-ngeri sedap dah malam itu.

Ekspresi Indah,, Tragis!!

Besok siangnya, kami memasuki tahap diklat lapangan dimana kami akan melanjutkan penderitaan perjuangan di salah satu bukit di daerah Rantau Berangin. Sore kami tiba di lokasi, dan masuk ke dalam hutan setelah magrib. Oh God.. ini benar-benar menyiksaku, carrier yang berat, jalan yang cuma diterangi lampu senter dan lampu badai, ditambah medan yang sulit dan licin membuat penderitaan ini semakin bertambah, soalnya si bolang yang satu ini (aku) paling rajin ngasi cap bokong di setiap jalan, maksudnya saking seringnya aku kepeleset. Soalnya aku rada gamang kalau berada di ketinggian dan diantara jurang, tapi yaaah.. sekali lagi musti gue jabanin!

Tampang sengasara semua

Diklat lapangan berlangsung selama 3 hari 2 malam, disana kami ngecamp dan setiap malamnya berganti-ganti tempat. Diklat lapangan ini sangat berkesan bagi aku, karena banyak hal-hal yang baru yang aku dapat dari diklat lapangan ini. Di sana aku ngerasain rasanya ditampar (beuh,, ternyata rasanya sakit juga!) , sit up dan push up bisa nyampe 200x (rekor dalam hidup niyh!), menjelajahi hutan, ngerasain kelaparan bertiga, ngerasain jurit malam, dan lain sebagainya.

Tapi, yang paling penting dari diklat ini adalah bagaimana memaknai rasa kebersamaan. Dalam hal ini kita bertiga adalah tim, saling meguatkan, saling membantu, saling berbagi walaupun kondisi pada saat itu genting dan ego masing-masing harus dibuang jauh-jauh. Dan kami sadar, kalau kita tidak bersatu pasti kita gagal. Aku bersyukur sempat mengalami moment ini, jadi sifat egois yang aku miliki berangsur-angsur terkikis dan berharap bakal ilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s