Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan Part 1 (Gunung Kerinci 3805 MDPL)

DSC00296 (2)

Ini sebuah perjalanan menuju puncak gunung Kerinci, tanah tertinggi di Pulau Sumatera. Banyak yang kami dapat dari perjalanan ini, mulai dari kebersamaan, cobaan, persahabatan, bahkan menemukan rumah dan keluarga baru. Tepatnya pada tanggal 11 Februari 2011, tim pendakian yang terdiri dari 7 orang : saya (Dara Sakai), Indah Sakai, Irul Sungkai, Arif Sungkai, Ze EMC2, Rere EMC2, dan Ubi GMPA ITM berangkat dari Pekanbaru pukul 20.30 WIB setelah melaksanakan upacara pelepasan dengan teman-teman Mapala UR.  Kami berangkat dari Pekanbaru menuju  kota Padang dengan travel yang ongkosnya Rp 375.000,-.

Besok paginya, pukul 04.10 WIB kami tiba di kota Padang untuk transit mobil menuju Sungai Penuh, Kerinci. Kami diberhentikan di sebuah simpang yang kata supir travelnya adalah tempat bus lewat menuju Sungai Penuh. Tetapi, setelah ditunggu-tunggu tidak ada satu pun mobil yang menuju Sungai Penuh. Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada penduduk lokal. Dan percayalah kepada rekomendasi penduduk lokal. Acapkali, ini lebih valid daripada rekomendasi yang kita peroleh dari buku atau majalah. Beberapa penduduk lokal mengatakan bahwa di simpang ini jarang ada bus yang menuju Sungai Penuh. Kami diharuskan untuk menunggu di simpang Lubek.

Pukul 05.49 WIB kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju simpang Lubek. Pelajaran baru yang kami dapat, jangan langsung percaya dengan supir travel, belum tentu apa yang dikatakannya benar. Setelah menempuh perjalanan yang berjarak kurang lebih 3 km, kami sampai di simpang Lubek. Pagi itu dikala menunggu mobil, kami disambut dengan tarian air langit. Yap! pagi pertama di kota Padang, hujan menemani kami. Beberapa calo travel mulai menawari kami mobil menuju Sungai Penuh, tetapi tidak ada yang sesuai dengan ongkos yang kami tawari, dan kami memutuskan untuk mencari mobil lain dan menunggu.

Setelah menunggu sekian lama, mobil menuju sungai penuh juga tidak ada. Atas rekomendasi bang Andre, senior kami yang tinggal di sungai Penuh menyarankan kami untuk menunggu mobil di SPBU Indarung. Akhirnya tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju SPBU Indarung dengan menaiki angkot bewarna merah dengan ongkos Rp 2.000,-/ orangnya. Setibanya di SPBU, kembali kami diharuskan untuk menunggu. Saya tidak pernah suka menunggu. Sayangnya, diantara semua harapan dan keinginan dalam hidup, menunggu adalah sesuatu yang tidak bisa saya hindari. Tanpa kita sadari, menunggu adalah bagian dari sebuah perjalanan. Acapkali membuat kita hampir mati kebosanan. Dan itulah yang sedang kami rasakan pada pagi itu. Ternyata, menurut info penduduk setempat bahwa mobil menuju Kerinci mulai berangkat pukul 09.00 WIB. Sepanjang pagi, kami hampir mati kebosanan karena menunggu. Setelah sarapan di emperan toko dengan bekal dari rumah, kami berusaha membunuh waktu dengan bercanda, berfoto dan berbicara dengan penduduk setempat.

Akhirnya kami mendapatkan mobil menuju Sungai Penuh setelah ditelfon bang Andre dengan harga sesuai kantong Rp 50.000,-/orang pada pukul 11.00 WIB. Dan dimulailah perjalanan panjang itu dari kota Padang melewati Solok Selatan dan melewati gunung Kerinci lalu sampailah di Sungai Penuh, kediaman bang Andre tempat kami menumpang. Di sepanjang perjalanan panjang itu, kami banyak menghabiskan waktu untuk tidur dan sesekali melihat pemandangan luar biasa yang disuguhkan Tuhan. Ladang-ladang warga yang tersusun rapi, hamparan kebun teh, bukit-bukit hijau yang menjulang, dan pohon-pohon kayu manis menemani perjalanan kami.

Pukul 19.00 WIB, kami sampai di rumah bang Andre di Sungai Penuh. Kami disambut hangat oleh keluarga bang Andre. Setelah makan malam dan mandi, kami bersilahturahmi ke Mapala STAIN Kerinci (Masker) dan bertemu teman-teman dari mapala Fisipioner, Kalimantan. Setelah puas beramah-tamah, kami memutuskan pulang untuk beristirahat karena besoknya kami akan menuju ke kota Kersik Tuo untuk mendaki gunung Kerinci.

Sore harinya pukul 16.00 WIB, kami berangkat menuju Kersik Tuo dan menginap semalam di rumah saudara Bang Andre yang berada di dekat kaki gunung Kerinci. Berdasarkan rencana awal, yang menjadi leader kami dalam pendakian adalah bang Andre, tetapi karena kondisi kaki bang Andre yang tidak memungkinkan untuk mendaki karena cedera bermain futsal, Rike dari Masker yang menjadi leader kami.

Sesampainya di rumah Pak de, kami disambut hangat oleh keluarga kecil yang sederhana itu. Setelah beramah-tamah sebentar, kami pergi ke tugu macan untuk berfoto-foto di tengah hamparan kebun teh hingga magrib menjelang. Malam pun tiba, kami memutuskan untuk langsung beristirahat guna mempersiapkan kondisi fisik untuk mendaki keesokan paginya.

Menemukan Rumah

Pagi pertama di kota Kersik Tuo, dinginnya cuaca dapat dikalahkan oleh kehangatan dan keramahtamahan penduduk disini. Seperti pak Maniso, lelaki paruh baya yang kami temui secara tidak sengaja tadi malam di rumahnya. Setelah puas berfoto-foto, malamnya kami sempat duduk-duduk di pinggir jalan. Sebelum memutuskan pulang ke rumah Pak De, kami mencari martabak. Sebagian ada yang menemani bang Andre mencari martabak, aku, Indah, Ze, dan Ubi mencari mesjid untuk menumpang buang air kecil. Ternyata mesjid yang ingin kami tumpangi tidak ada toiletnya, jadi kami diantar oleh gharim mesjid untuk menumpangdi rumah sebelah mesjid. Kami semua disambut seperti keluarga yang sudah lama tidak kembali, kami tidak diperlakukan seperti orang asing. Pak Maniso dan sang istri menyambut kami dengan senyuman hangat, padahal kami menumpang toiletnya. Kembali dalam perjalanan ini saya menemukan rumah dan keluarga baru. Saya tidak akan melupakan senyuman hangat mereka.

Begitu juga dengan keluarga pak De tempat kami menumpang selama di Kersik Tuo, kesederhanaan dan keramahtamahannya mampu menghangatkan kota dingin ini. Kami tidak merasa asing di rumah kecil itu, kami seperti sudah keluarga lama. Pagi harinya setelah sarapan pagi, kami bersiap untuk berangkat menuju tugu macan. Kami sengaja berangkat pagi-pagi, supaya dapat tumpangan mobil ke ladang menuju pintu rimba. Karena perjalanan dari tugu macan menuju pintu rimba cukup jauh, ditempuh sekitar kurang lebih 2 jam.

Petualangan pun Dimulai

Sekitar pukul 08.16 WIB, kami tiba di pintu rimba. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri berdo’a memohon keselamatan kepada sang pencipta. Bang Andre melepas kami di pintu rimba, dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 1. Pukul 08.40, kami tiba di pos 1, beristirahat sejenak sambil berfoto kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Sekitar 15 menit, kami tiba di pos 2. Kami pun beristirahat sejenak dan mengisi botol-botol air minum, karena di pos 2 terdapat sumber air. Pukul 10.27 kami tiba di pos 3, perjalanan menuju pos 3 sudah mulai terjal dan ini masih pemanasannya.

Selanjutnya perjalanan menuju shelter 1, medan pun sudah semakin terjal dan kelelahan sempat melanda saya, untungnya ada teman-teman yang selalu menyemangati. Ini indahnya mendaki gunung, kebersamaan ketika kelelahan melanda dapat diredam oleh tawa canda dan semangat dari teman-teman. Setelah menempuh kurang lebih 2,5 jam perjalanan kami tiba di shelter 1. Kami pun makan siang di shelter 1 sambil merayakan valentine (karena kebetulan pada saat itu bertepatan dengan tanggal 14 Februari) dengan berbagi cokelat yang di bawa Ze. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju shelter 2,

Perjalanan menuju shelter 2 semakin berat, karena medan yang ditempuh semakin terjal. Gerimis pun menemani perjalanan kami yang membuat langkah ini semakin berat. Saya sempat beberapa kali down, tapi berkat semangat dan bantuan dari teman-teman akhirnya saya bisa melanjutkan perjalanan sampai ke shelter 2. Sekitar pukul 17.30 wib, kami tiba di shelter 2 dan mendirikan camp untuk beristirahat semalam sebelum menuju puncak.

Menuju Puncak

Rabu, 15 April 2012 pukul 04.00 WIB, dengan mata berat menahan rasa kantuk dan berjuang melawan dinginnya udara, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak Kerinci. kami memulai perjalanan subuh, dengan harapan dapat menyaksikan sunrise di shelter 3. Semua peralatan ditinggal di shelter 2, kecuali beberapa logistik dan air hangat. Setelah selesai berkemas, kami pun berangkat menuju shelter 3. Perjalanan menuju shelter 3 dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih satu setengah jam. Meskipun medan yang dilalui sulit dan harus melawan dingin kami tetap semangat untuk meneruskan perjalanan dengan harapan dapat menyaksikan semburat senyum matahari pagi di gunung Kerinci.

Sekitar pukul 5.30, kami akhirnya tiba di shelter 3. Pemandangan lampu kota terlihat seperti bintang dan perpaduan awan menghadirkan keindahan simetris dan kami berada di negeri atas awan. Tetapi harapan yang besar untuk menyaksikan sunrise pun sirna, kabut disertai uap air menghalangi pandangan. Kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Cuaca pagi itu sangat tidak bersahabat, kabut yang disertai uap air semakin tebal. Kami pun segera mencari celah parit untuk melindungi diri dari dinginnya udara dan uap air.

Kami para cewek berusaha untuk menghibur diri dengan bernyanyi atau bercerita untuk mengusir dingin. Dan doa selalu kami panjatkan agar kabut hilang dan kami selamat. Pada saat itu sempat terlintas tentang kematian. Di saat genting seperti ini, barulah kita sadar betapa berharganya hidup ini. Dari sini saya belajar untuk menghargai hidup dan menyadari bahwa ada keluarga yang menantikan kepulangan saya. Cuaca yang sangat dingin dan uap air semakin lebat, membuat tangan kami kebas dan badan semakin menggigil. Sekitar pukul 09.00 WIB, cuaca sudah mulai membaik, meskipun masih ada kabut tetapi uap air sudah tidak ada lagi. Kami meneruskan perjalanan menuju puncak. Sesekali pemandangan terlihat dan cuaca semakin cerah, dan akhirnya kami pun tiba di tanah tertinggi di Sumatera pada pukul 10.25 WIB. Meskipun aroma belerang tercium dan kabut sangat tebal di puncak, kami tetap mengabadikan momen di puncak Kerinci. Setelah perjalanan panjang dan penuh perjuangan, akhirnya kami dapat menginjakkan kaki di puncak itu, rasa syukur dan tawa haru membuncah. Tak henti-hentinya ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas mahakarya-Nya menciptakan alam yang luar biasa.

Setelah puas berfoto, kami pun turun menuju shelter 2 untuk berkemas dan langsung turun ke bawah. Sekitar pukul 17.00 WIB, kami memutuskan turun ke bawah dikarenakan leader kami, Rike ada kegiatan diklat besok pagi. Sebenarnya, perjalanan malam sangat tidak disarankan kepada para pendaki, mengingat banyaknya si Belang (harimau) yang berkeliaran di malam hari. Tetapi karena keadaan memaksa untuk turun, kami pun melanjutkan perjalanan ke bawah. Setelah menempuh perjalanan malam yang cukup menegangkan, akhirnya kami tiba di pintu rimba sekitar pukul 20.30 WIB. Perjalanan ini pun berakhir di rumah Pak De, malam itu kami langsung tidur pulas dan berharap stamina segera pulih agar dapat melanjutkan perjalanan menuju Gunung Tujuh.

2 thoughts on “Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan Part 1 (Gunung Kerinci 3805 MDPL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s